Tampilkan postingan dengan label tips mendaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips mendaki. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2016

Teknik Mendaki Gunung : Ultralight Hiking

Ultralight Hiking - Pendaki gunung biasanya sangat identik dengan tas besar di pundak yang berisi banyak bekal perjalanan berupa peralatan dan bahan makanan. Jumlah peralatan dan perbekalan itu sendiri tergantung dari berapa lama waktu pendakian akan berlangsung, semakin lama perjalanan yang dilakukan, akan semakin banyak perbekalan yang dibutuhkan, dan semakin berat juga beban yang harus dipikul oleh pundak si pendaki.
Sialnya, kadangkala carrier atau ransel yang dibawa tak cukup untuk menampung semua perbekalan, sehingga dengan terpaksa kita harus menggantung beberapa peralatan di luar carrier, atau menenteng beberapa perbekalan dalam kantong kresek di tangan kita. Tentu saja hal tersebut sangat menjengkelkan, karena sangat mengganggu pergerakan saat harus melewati jalur-jalur terjal di sepanjang jalur pendakian.
Adakah cara untuk meringankan semua beban pendakian yang biasa kita bawa? Tentu saja ada, dan beberapa waktu belakangan, teknik pendakian ini sedang cukup populer untuk diterapkan, teknik mendaki ini dikenal dengan istilah ultralight hiking.

Apa itu ultralight hiking?

Menurut wikipedia, ultralight hiking atau ultralight backpacking adalah teknik mendaki gunung yang menekankan untuk membawa peralatan dan perbekalan dengan berat seminimal mungkin, tanpa menghilangkan fungsi penting peralatan dan perbekalan tersebut. Berat standar tas yang dibawa (bervariasi tergantung style mendaki dan durasi waktu perjalanan) dikurangi sebanyak mungkin hingga batas aman yang masih bisa ditolerir.
Berat standar yang sering dijadikan acuan adalah sebagai berikut :
- Ultralight Hiking = beban yang dibawa berada kurang dari 5 kg.
- Lightweight Hiking = beban yang dibawa kurang dari 10 kg.
*Untuk perbandingan, pendakian dengan cara lama biasanya membawa beban dengan berat standar sekitar 15 kg dan bahkan hingga mencapai beban seberat 30 kg.
Sedangkan menurut sumber lain, standar beban yang berlaku adalah sebagai berikut :
- Minimalist Hiking = beban yang dibawa dibawah 6 kg.
- Ultralight Hiking = beban yang dibawa berada di kisaran angka 10 kg.
- Lightweight Hiking = beban yang dibawa diatas 10 kg hingga maksimal 15 kg.
- Plush/Deluxe Hiking = beban yang dibawa diatas 15 kg.

Apakah anda sudah siap melakukan pendakian dengan teknik ultralight hiking?

Mendaki dengan teknik ini bukan perkara yang mudah untuk dilakukan, pendaki dengan pengalaman dan keterampilan minimal akan sangat sulit untuk mempraktekkannya di lapangan. Pendakian dengan teknik ini benar-benar menekankan untuk hanya membawa sedikit peralatan dan bahan makanan dengan tanpa mengurangi efektivitas dan keamanan diri anda saat melakukan pendakian.
Sebelum mencoba menerapkan teknik mendaki ini, evaluasi dulu diri anda dengan jujur dan objektif. Tanyakanlah beberapa pertanyaan ini pada diri anda.


1. Apakah tingkat pengalaman dan keterampilan mendaki yang anda miliki sudah berada atau minimal mendekati tingkatan pendaki professional?
2. Dapatkah anda beradaptasi dengan baik saat rencana yang anda buat tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan?
3. Dapatkah anda berimprovisasi dalam mengatasi setiap kejadian buruk yang tak terduga?
4. Apakah anda dapat tidur dengan hanya mengandalkan matras dan sleepingbag tipis? Atau anda masih memerlukan matras dan sleeping bag tebal untuk menghalau dingin?
5. Dapatkah anda makan langsung dari nesting? Atau anda masih harus makan dengan menggunakan piring dan mangkuk terpisah?
6. Apakah anda mampu me-manage kebutuhan air anda dengan hanya membawa satu botol air saja? Atau anda masih perlu membawa banyak botol cadangan?
7. Dapatkan anda mendaki dengan sepatu sport yang simple? Atau anda masih perlu sepatu mendaki yang kuat namun berat? 
Nilailah kemampuan diri anda secara objektif, jika anda rasa belum memenuhi syarat-syarat yang terkandung dalam pertanyaan-pertanyaan di atas, lebih baik jangan dulu menerapkan teknik mendaki ini secara total.
Daripada memaksakan diri secara ekstrim, anda mungkin bisa coba mulai menerapkan teknik ultralight dengan mengurangi beban pendakian yang biasa anda bawa secara bertahap. Misalnya di pendakian berikutnya, anda memilih barang yang harus dibawa dengan lebih bijak, tinggalkan barang-barang yang tak terlalu penting di rumah.
Di pendakian berikutnya anda mulai mencoba mengganti peralatan yang memiliki beban berat dengan peralatan yang memiliki fungsi sama namun punya beban yang lebih ringan.
Kunci dari penerapan teknik pendakian ultralight adalah dengan membuat diri anda menjadi se-simple dan se-efisien mungkin sejauh yang anda bisa.
***
Untuk soal peralatan ultralight, anda tak perlu khawatir, kini telah banyak peralatan mendaki dengan berat yang lebih ringan dijual di pasaran. Jika anda serius ingin menjadi pendaki ultralight, cobalah untuk mulai beralih dari peralatan lama anda yang ribet dan berat, ke peralatan baru yang lebih simple dan ringan.
Karena biasanya berbagai peralatan ultralight memiliki harga yang lebih mahal dari peralatan mendaki konvensional, mulailah menabung untuk berinvestasi di peralatan tersebut. Atau anda bisa mencicil dengan mengganti satu persatu peralatan anda secara bertahap.

Ultralight syle vs Traditional style via www.oregonlive.com
Itulah sedikit informasi mengenai teknik mendaki ultralight yang dapat saya berikan. Informasi-informasi di ata diambil dari berbagai sumber. Jika ada kesalahan penulisan maupun kesalahan materi dalam informasi di atas, silahkan meluangkan waktu untuk mengoreksinya dengan menulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat dalam menambah wawasan anda semua, salam lestari!
sumber : www.bluetripper.com

rental tenda camping,sewa tenda camping,rental alat camping,sewa alat camping,rental alat gunung,sewa alat gunung,rental alat pendakian,sewa alat pendakian,rental tenda kemah,sewa tenda kemah,rental tenda kemping,sewa tenda kemping,rental alat kemping,sewa alat kemping,rental ht,tenda pleton,tenda dome,sleepingbag,matras,headlamp,cariel,kompor gas hi-cook,nesting,flysheet,dan lain - lain
www.panduadventure.com 

Rabu, 31 Agustus 2016

7 Cara Terbaik Membuat Api tanpa Korek

Membuat api untuk berbagai keperluan seperti memasak makanan, menghangatkan badan, ataupun mengusir hewan liar adalah salah satu kebutuhan penting untuk dapat bertahan hidup di alam bebas. Dengan prioritas seperti itu, tak heran korek api (baik itu korek kayu atau gas) sebagai alat utama untuk membuat api menjadi salah satu barang paling penting bagi para petualang.
Nah bagaimana jika satu waktu kita dipaksa berhadapan dengan kondisi tanpa korek api saat sedang bertualang di alam bebas? Penyebabnya bisa karena lupa membawa korek, jatuh atau hilang di perjalanan, tak berfungsi karena basah, atau dalam situasi paling ekstrim kita kehabisan korek karena terjebak dalam dalam keadaan survival untuk waktu yang cukup lama.
Tanpa api di tengah alam liar dengan cuaca yang ganas, sepertinya kita tak bakal mampu bertahan hidup dalam waktu yang lama.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi buruk seperti yang saya bahas di atas, alangkah baiknya kita membekali diri dengan pengetahuan dan skill bertahan hidup (survival) seperti cara membuat api tanpa korek. Jika dipelajari dan dikuasai dengan baik, pada satu kondisi, skill membuat api ini mungkin akan dapat menyelamatkan hidup anda.
***
Untuk dapat membuat api tanpa korek, ada banyak cara dan teknik yang bisa dilakukan, 7 diantaranya akan saya bahas dalam tulisan ini.

1.Membuat api dengan memutar batang kayu dengan tangan (Hand Drill Method).

Menurut para ahli survival, cara ini merupakan salah satu cara paling sederhana dan sering dipraktekan untuk membuat api oleh para survivor. Cara membuat api yang dikenal dengan nama hand drill method ini mengandalkan gesekan antara batang kayu dan papan yang akan menghasilkan panas untuk membuat api.
Cara ini juga tidak membutuhkan bahan-bahan rumit seperti cairan kimia dll. Anda hanya perlu sebuah papan kayu yang cukup kokoh sebagai alas, satu batang kayu kurang lebih sepanjang setengah meter, dan serpihan-serpihan kecil kayu, daun atau rumput kering yang mudah terbakar sebagai sumbu api.
Langkah pertama, buat cerukan kecil pada papan kayu sebagai tempat ujung batang kayu yang akan anda gesekkan. Letakkan batang kayu tepat dicerukan tersebut. Simpan beberapa serpihan kayu kecil, daun, atau rumput kering di sekitar cerukan. Berikutnya, putar-putar batang kayu dengan tangan anda hingga untuk menghasilkan gesekan.
Setelah bara api mulai muncul di sekitar daerah gesekan antara batang dan papan kayu, tambahkan lagi beberapa serpihan kayu yang mudah terbakar, kemudian tiup bara tersebut hingga api benar-benar menyala.
Setelah itu, tambahkan beberapa batang kayu kecil agar api mulai membesar. Setelah nyala api stabil, silahkan tambahkan potongan kayu yang lebih besar.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.

2. Membuat api dengan memutar batang kayu dengan bantuan busur (Bow Drill Method).

Metode kedua ini konsepnya hampir sama dengan metode pertama tadi, namun dengan variasi menggunakan busur yang akan memudahkan anda untuk memutar batang kayu dan mempercepat timbulnya bara api hasil gesekan kayu.
Pada metode ini anda hanya perlu membuat sebuah busur sederhana dengan membengkokkan sebuah batang kayu, kemudian ikat kedua ujungnya dengan menggunakan tali yang cukup kuat. Kaitkan bagian tengah tali pada batang kayu, kemudian putar bolak-balik batang kayu dengan menggerakkan busur berulang kali. Gunakan batu untuk pemberat di atas batang kayu, agar ujungnya tetap menempel pada papan saat anda putar memutar busur.
Selanjutnya lakukan putaran berulang-ulang hingga menghasilkan asap dan bara api, tiup dan tambahkan kayu seperti pada metode pertama.
Jika anda kebetulan punya tali yang bisa digunakan untuk merangkai busur, membuat api dengan metode ini jauh lebih efisien dan mudah dilakukan dibanding dengan metode pertama.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.

3. Membuat api dengan bantuan bajak api (Fire Plow).

Metode ketiga ini juga masih mengedepankan konsep menghasilkan bara api dari gesekan antar kayu, namun dengan cara yang benar-benar berbeda. Jika di metode pertama dan kedua tadi kita membuat gesekan dengan memutar batang kayu, di metode ketiga ini, kita membuat gesekan dengan menekan batang kayu maju-mundur pada papan kayu yang diletakkan dalam posisi agak miring.
Untuk membuat api dengan metode ini, bahannya masih agak sama dengan yang pertama dan kedua tadi, namun disini anda harus membuat cerukan memanjang pada papan kayu sebagai alur untuk menggesekkan batang kayu. Buat cerukan dengan pisau, atau batu runcing (jika tak ada pisau).
Letakkan papan dengan posisi agak miring dimana ujung bawahnya harus anda jepit dengan kaki. Letakkan beberapa serpihan kayu, daun, atau rumput kering sebagai sumbu di sekitar bagian ujung alur. Kemudian gerakan batang kayu dengan arah maju mundur mengikuti alur untuk menghasilkan gesekan hingga muncul bara api dan asap. Berikutnya, lakukan serupa di metode pertama dan kedua.
Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.  

4. Membuat api dengan batu api dan potongan besi.

Membuat api dengan metode ini perlu peralatan khusus yakni batu api yang tak bisa anda dapatkan dengan mudah di alam sekitar. Jika anda membeli sepaket peralatan survival, batu api dan sebatang besi biasanya sudah termasuk didalam paket tersebut sebagai fire starter darurat.
Metode ini mengharuskan anda untuk menggesekkan batu api pada besi (bisa menggunakan pisau saku) untuk menghasilkan percikan bara api yang akan membakar sumbu api dari bahan-bahan yang mudah terbakar seperti kertas, serpihan kayu kecil, daun, atau rumput kering sebagai sumbu. Asalkan anda punya peralatannya (batu api dan besi), membuat api dengan metode ini terbilang cukup mudah untuk dilakukan.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.

5. Membuat api dengan menggunakan cermin atau kaca pembesar.

Dulu kala, saat masa sekolah dasar dalam pelajaran IPA atau saat ikut kegiatan pramuka, mungkin anda semua pernah belajar atau bahkan mencoba-coba membuat api dengan metode ini. Ya, metode ini membutuhkan sinar matahari untuk kemudian dipantulkan dengan cermin cekung atau kaca pembesar pada bahan yang mudah terbakar.
Reflektor pada lampu senter atau botol bening yang diisi air bisa digunakan sebagai alat pendukung metode ini. Selanjutnya anda hanya perlu memfokuskan pantulan sinar matahari pada bahan yang mudah terbakar. Membuat api dengan metode ini butuh waktu dan kesabaran.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.

6. Membuat api dengan baterai dan steel wool.

Apa itu steel wool? Kurang lebihnya, steel wool adalah sebuah untaian besi yang dililit dengan rapi hingga menghasilkan untaian serabut besi.
Anda yang suka dengan fotografi mungkin sudah tak asing dengan benda satu ini. Ya, di dunia fotografi ada sebuah teknik bernama steel wool photography yang menggunakan benda ini sebagai penghasil percikan api untuk di-capture oleh kamera. Karena kerap digunakan untuk kebutuhan fotografi, steel wool banyak dijual di toko-toko kamera, atau hardware.
Untuk membuat api dengan metode ini, bahan lain yang anda butuhkan adalah baterai. Caranya cukup mudah, anda tinggal menggesekkan steel wool pada bagian terminal baterai hingga memunculkan bara api. Api yang muncul harus segera didekatkan dengan bahan yang mudah terbakar sebagai sumbu api, sebelum seluruh steel wool habis terbakar.
Membuat api dengan metode ini butuh peralatan modern seperti baterai dan steel wool, namun sangat efektif dan mudah dilakukan.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.

7. Membuat api dengan pembakaran kimia.

Setelah berkutat dengan berbagai proses pembuatan api secara fisika, di metode terakhir ini kita akan mempelajari cara membuat api yang melibatkan bahan-bahan kimia. Metode ini melibatkan 2 jenis bahan kimia yang bisa menimbulkan reaksi kimia pembuat api.
Bahan yang anda butuhkan adalah Kristal kalium atau potassium permangate dan gliserin (glycerin). Bahan pertama biasa digunakan sebagai antiseptic atau pembersih kuman dan penjernih air. Dengan fungsi tersebut, bahan ini juga akan sangat berguna untuk kebutuhan survival lainnya saat anda ingin membersihkan luka atau membunuh kuman dan menjernihkan air yang anda temukan di sumber air yang cukup kotor.
Sedangkan gliserin biasanya digunakan untuk bahan sirup pada obat cair atau untuk membuat kue. Bahan ini bisa anda dapatkan di apotek-apotek terdekat atau di toko kimia untuk bahan makanan.
Cara membuat api dengan 2 bahan kimia ini cukup mudah dilakukan, anda hanya perlu meletakkan satu sendok potassium permanganate di atas bahan mudah terbakar seperti selembar kertas atau sehelai daun kering. Simpan diatas potongan kayu kecil, kemudian tambahkan beberapa tetes gliserin di atas kristal potassium permanganate. Mundur agak jauh dan tunggu beberapa menit.
Reaksi kedua bahan kimia tersebut akan menghasilkan ledakan kecil yang bakal membakar sumbu api anda dengan seketika.

Alternatif cara lain untuk menerapkan metode ini bisa anda lihat dan pelajari dengan lebih jelas dalam video berikut.
Membuat api adalah salah satu cara bertahan hidup paling penting terutama untuk memasak bahan makanan. Selain itu membuat api unggun untuk menghangatkan badan juga bisa menyelamatkan kita dari serangan hipotermia.

Perlu diingat, membuat api dengan ke tujuh cara ini tidak semudah seperti apa yang saya tuliskan dan apa yang anda lihat di video-video di atas, apalagi jika anda benar-benar masih pemula dan belum pernah mencoba teknik-teknik ini. Untuk benar-benar bisa membuat api tanpa korek, butuh proses belajar dan berlatih dengan waktu yang tak sebentar, kecuali jika anda memang benar-benar berbakat.
Sebagai catatan lain, berhati-hatilah saat membuat api dan pastikan anda telah menyiapkan langkah-langkah atau alat untuk memadamkan api sebelum anda membuat api menyala, agar potensi bahaya kebakaran bisa segera diatasi manakala kecelakaan terjadi.

Semoga bermanfaat, salam lestari!

Selasa, 30 Agustus 2016

Tips Berkemah di Alam Bebas





8 Tips Mengantisipasi dan Menangani Situasi Tersesat saat Mendaki Gunung

Saat mendaki gunung, banyak rintangan yang sering datang tanpa di duga, salah satunya adalah tersesat atau kehilangan arah di tengah jalur pendakian. Tersesat di hutan lebih mudah terjadi dari yang anda kira. Rapatnya pepohonan, cuaca buruk, dan jalur yang bercabang bisa menjadi penyebab yang menuntun anda ke arah yang salah.

Jika kejadian ini menimpa anda, berusahalah untuk tidak panik dan tetap tenang. Pesiapan yang baik dan pengetahuan yang cukup akan membawa anda keluar dari situasi tersesat. Beberapa tips dan trik berikut ini mungkin dapat berguna untuk mencegah dan menangani situasi tersesat di tengah pendakian.

1. Persiapkan peralatan yang baik saat melakukan perencanaan perjalanan

Persiapkan peralatan navigasi yang baik dan persediaan ransum yang banyak. Ransum yang banyak akan sangat menolong anda untuk bertahan hidup saat tersesat di hutan. Satu peralatan lainnya yang paling penting yang harus anda persiapkan untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan akan tersesat di hutan adalah survival kit. Pastikan peralatan P3K dan alat bertahan hidup lainnya dalam survival kit anda benar-benar dalam keadaan prima (tidak rusak atau kadaluarsa).

2. Sebelum pergi mendaki, beritahu tetangga, keluarga, ataupun orang terdekat tentang rencana perjalanan yang akan anda lakukan

Beritahu mereka kapan anda akan melakukan perjalanan, kemana tujuan anda, dan kapan anda pulang. Saat anda benar-benar tersesat di hutan, dan tak kembali pulang pada waktunya, hal ini akan berguna untuk mendapatkan batuan tim penolong yang bisa menyelamatkan anda.

3. Perhatikan dan ingat-ingat keadaan alam sekitar

Saat anda berjalan di gunung, pohon tumbang, batu besar, atau hal lain yang mencolok di jalur perjalanan anda. Hal ini akan membantu anda untuk dapat kembali ke jalur benar yang telah anda lalui sebelum anda tersesat.

4. Saat anda merasa telah tersesat, hentikan perjalanan sejenak untuk menenangkan pikiran

Berjalan terus memasuki hutan bisa membuat anda tersesat lebih jauh dan lebih dalam, hal ini akan semakin menyulitkan upaya untuk kembali ke jalur yang benar. Berhenti berjalan juga dapat membantu anda lebih dekat dengan regu penyelamat, karena upaya pencarian akan dimulai dari tempat anda mulai tersesat.

5. Berpikirlah dengan jernih, buang jauh-jauh perasaan panik dan takut 

Analisa situasi yang ada dengan rasional dan bijak, jangan terpengaruh dengan pikiran-pikiran buruk yang tak masuk akal. Terus berjalan dalam keadaan lelah dan tak tahu arah akan membuat pikiran anda tak karuan, maka dari itu ketika kondisi yang ada sudah sangat tak kondusif, pilihlah untuk berhenti agar pikiran anda jernih kembali. Hal ini harus dilakukan agar anda terhindar dari salah pengambilan keputusan yang sangat fatal.

6. Buat rencana langkah-langkah yang perlu anda lakukan untuk dapat keluar dari situasi tersesat

Anda dapat memilih untuk camping saat malam hari, dan mencoba mencari pertolongan atau jalur yang benar saat siang. Jika anda percaya diri untuk mencoba mencari jalan, usahakan untuk selalu meninggalkan jejak, bisa dilakukan dengan membuat tanda pada pohon, mengikat pita pada ranting, atau mebuat gundukan batu sebagai pengingat jalan yang telah anda lalui.

7. Jika semua usaha gagal, carilah tempat strategis dan cukup nyaman ditinggali untuk menunggu regu penolong yang mungkin datang mencari anda

Jika semua usaha yang telah anda lakukan tidak berhasil, atau anda terlalu takut untuk mencoba mencari jalan keluar, maka pilihan paling rasional adalah diam di tempat anda berada atau mencari tempat yang cukup nyaman (dekat sumber air) untuk didiami saat menunggu bantuan regu penyelamat. Persiapan perbekalan yang banyak akan memberikan anda waktu lebih panjang untuk menunggu bantuan.

8. Mempelajari ilmu bertahan hidup di alam liar bisa jadi bekal yang berharga agar anda tak mati konyol saat sedang bertualang

Tips yang terakhir, jika anda memang memiliki hobi ataupun pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan di alam bebas, pelajarilah teknik-teknik dasar survival. Pengetahuan tentang teknik bertahan hidup ini sangat penting sekali untuk menyelamatkan anda dari keadaan terburuk yang bisa anda alami saat berkegiatan di alam bebas, salah satunya yang paling sering terjadi adalah tersesat di hutan.

***
Itulah beberapa tips yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat. Salam Lestari!
sumber : www.bluetripper.com

Tips Packing untuk Mendaki Gunung


10 Peralatan Survival yang Harus Selalu Anda Bawa saat Bertualang di Alam

Peralatan Survival - Resiko dan ancaman bahaya merupakan bagian dari petualangan alam bebas. Sebaik apapun persiapan yang dilakukan, dan sehebat apapun skill yang dipunyai oleh petualang, resiko dan ancaman bahaya tak boleh diabaikan begitu saja, dan harus mendapatkan perhatian khusus untuk langkah-langkah pencegahan dan penanganannya. Salah satu persiapan untuk menghadapi ancaman bahaya yang dapat membahayakan keselamatan antara lain dengan mempelajari teknik-teknik survival (cara bertahan hidup di alam) dan selalu membawa peralatan survival (survival kit) kapan pun kita akan pergi bertualang.

Beberapa peralatan survival berikut ini sangat saya rekomendasikan untuk selalu anda bawa di setiap perjalanan petualangan. Meski peralatan ini kemungkinan besar tak akan terpakai (jika perjalanan berlangsung aman), namun akan sangat menolong jika sewaktu-waktu anda dihadapkan pada kondisi buruk yang mengancam keselamatan nyawa.

1. Pisau Saku atau Multi-tool

Inilah peralatan paling penting yang harus selalu anda bawa, karena fungsinya memang sangat vital. Multi-tool dengan beragam peralatan dan fungsi yang bermanfaat dalam satu barang bisa anda gunakan untuk berbagai keperluan penting dalam usaha bertahan hidup di alam (survival). Selain itu, kemasannya yang sangat simple dan mudah dibawa juga tak akan mengganggu pergerakan atau menambah beban perjalanan anda. Multi-tool atau pisau saku akan selalu berguna tak hanya untuk keperluan saat kondisi survival saja, namun setiap saat.

2. Makanan (Beserta Pengetahuan dan Skill Memperoleh Makanan di Alam)

Membawa cadangan makanan berlebih akan sangat menolong untuk memperpanjang hidup anda manakala dihadapkan pada situasi tersesat di gunung atau terjebak di satu tempat karena alasan tertentu. Cadangan makanan akan vital perannya dalam membantu usaha anda untuk bisa bertahan hidup selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu saat menunggu bantuan ataupun mencari jalan keluar. Cadangan makanan khusus survival (atau makanan TNI) biasanya punya kemasan yang lebih simpel dengan kandungan gizi yang akan mencukupi kebutuhan tubuh anda.

Selain membawa makanan cadangan, anda pun perlu mengasah skill dan pengetahuan tentang cara mendapatkan makanan dari alam liar. Anda bisa mempelajari berbagai jenis tanaman liar yang bisa dan tidak bisa dimakan. Mempelajari bagaimana cara membuat jerat, menangkap ikan, dan cara berburu lainnya juga akan sangat bermanfaat.

3. Pemantik api

Api merupakan salah satu bagian terpenting yang sangat dibutuhkan manusia, terutama saat berada dalam kondisi buruk di alam liar. Api punya banyak fungsi, dari mulai memasak makanan, menghangatkan tubuh, hingga mengusir hewan liar. Maka dari itu, alat pemantik api seperti korek, ataupun pasangan batu api dan besi untuk membuat api unggun harus selalu anda bawa, terutama jika anda tak terlalu mahir dengan cara membuat api tanpa korek.

4. Peralatan P3K

Terkadang, jika petualangan yang kita lakukan berjalan dengan aman dan lancar, membawa kotak P3K hanya menjadi beban tambahan yang tak berguna. Namun jangan meremehkan peralatan satu ini, dalam kondisi buruk, peralatan P3K bisa saja menyelamatkan nyawa anda. Maka dari itu, kapan pun anda pergi bertualang, jangan lupa untuk membawa peralatan satu ini!

5. Tali

Tali merupakan peralatan survival yang sangat berharga dengan fungsi yang sangat vital. Tali bisa menolong jika anda terjebak di jurang ataupun menghadapi medan terjal yang sulit untuk dilewati. Selain itu, tali juga bisa digunakan sebagai alat pengikat yang kuat untuk berbagai kebutuhan. Namun, membawa tali kernmantel di setiap perjalanan tentu saja akan sangat merepotkan dan sangat menambah beban. Solusinya, anda bisa membawa tali yang lebih ringan dan simpel seperti webbing, prusik, atau paracord. Khusus untuk tali paracord, anda juga bisa membuat berbagai kerajinan untuk aksesoris seperti gelang paracord, kalung atau gantungan kunci agar lebih praktis dan nyaman untuk dibawa.

6. Flysheet

Sehebat apapun anda mampu membuat bivak alam, dan sebagus apapun bivak alam dari dedaunan yang anda buat, tetap saja shelter yang dibuat dari flysheet atau terpal akan lebih nyaman dan tahan lama untuk digunakan. Maka dari itu, flysheet termasuk peralatan survival penting yang harus anda bawa. Selain sangat bermanfaat untuk digunakan dalam kondisi survival, flysheet juga sangat berguna untuk kebutuhan shelter mendadak seperti misalnya saat tiba-tiba anda terjebak hujan di tengah perjalanan.

7. Peluit

Untuk apa peluit harus kita bawa dalam perjalanan petualangan? Emangnya kita tukang parkir atau wasit pertandingan olahraga. Jangan salah, peluit bisa menjadi alat yang sangat vital terutama jika kita menghadapi situasi tersesat atau terjebak tak bisa bergerak di satu tempat karena kecelakaan. Peluit berguna untuk memberikan sinyal yang menandakan posisi tempat kita berada kepada regu penolong yang mungkin berada tak jauh dari posisi kita. Ukuran peluit yang kecil juga memudahkan untuk dibawa, sehingga tak ada salahnya anda selalu membawa peralatan ini kemanapun anda pergi bertualang.

8. Kompas dan Peta

Terus terang saya sendiri pernah mengalami betapa sulitnya untuk keluar dari situasi tersesat jika tak anda kompas dan peta sebagai peralatan navigasi. Insting dan naluri saja tidak akan cukup, tanpa peta dan kompas, kita akan benar-benar buta di tengah alam liar yang tak kita kenal. Maka dari itu, membawa peta dan kompas dalam setiap perjalanan wajib hukumnya bagi para petualang. Dan jangan lupa untuk belajar ilmu navigasi darat, karena tanpa ilmu itu, 2 peralatan ini tak bakal banyak membantu.

9. Lakban (Duct tape)

Lakban punya banyak fungsi yang bisa mengatasi berbagai situasi mendesak terutama yang berkaitan dengan kerusakan peralatan. Lakban bisa menambal tenda yang bocor, tas yang sobek, pengikat apapun, pelapis sepatu, dan lain sebagainya. Dengan berbagai fungsi penting tersebut, duct tape menjadi salah satu barang wajib untuk melengkapi peralatan survival anda.

10. Nylon Cable Tie (Tali Pengikat Kabel)

Ripet, atau tali pengikat kabel sebenarnya terlihat sepele dan agak kurang meyakinkan jika dibawa bertualang, padahal alat ini punya banyak fungsi yang bakal sangat berguna. Ripet bisa digunakan sebagai pengikat darurat saat tali keril anda putus. Dengan bahan plastik yang kuat, ripet juga bisa digunakan untuk mengikat berbagai hal dengan sangat baik. Selain itu, ripet dengan warna mencolok bisa digunakan sebagai pemberi tanda jejak saat anda tersesat atau tak yakin dengan jalur yang anda lewati.


Cara Penanganan (Menghangatkan) Korban Hipotermia

Penanganan Korban Hipotermia - Bahasan mengenai serangan hipotermia yang sering menimpa pendaki gunung sebenarnya sudah pernah saya bahas dalam tulisan "Hipotermia saat mendaki gunung, Pelajari cara Mencegah dan Menanganinya!". Di tulisan tersebut, anda bisa menemukan informasi tentang apa itu hipotermia, penyebabnya, gejala yang timbul, langkah penanganan yang bisa dilakukan, dan lain sebagainya dengan cukup lengkap.

Untuk menambah informasi dari tulisan itu, kali ini saya coba membuat tulisan yang lebih simpel dengan membahas secara khusus langkah-langkah apa saja yang perlu diambil jika sewaktu-waktu anda menemukan pendaki lain atau teman anda terserang hipotermia. Pembahasan kali ini akan saya bagi menjadi 2 bagian, yakni penanganan untuk korban hipotermia ringan, dan korban hipotermia berat yang kondisinya sudah lumayan parah.

Langkah Penanganan untuk Korban Hipotermia dalam Kondisi tak Terlalu Parah :


1. Ganti seluruh pakaian basah korban dengan pakaian kering dan menutupi seluruh bagian tubuh, kemudian ajak korban untuk melakukan gerakan pemanasan seperti melompat sambil menggerakan kedua kaki dan tangan, atau melakukan gerakan sit-up.
2. Paksa korban untuk makan dan minum secukupnya. Sangat disarankan untuk memberi korban makanan atau minuman hangat. Meski begitu, makanan dan minuman dingin pun masih akan menolong, karena asupan makanan dan minuman tersebut akan meningkatkan aktivitas metabolisme tubuh yang bisa meningkatkan temperatur tubuh korban.

3. Gunakan bantuan penghangat tambahan dari luar tubuh, seperti menggunakan botol yang diisi air panas untuk kemudian ditempelkan pada tubuh korban, atau bisa dengan menyalakan dan mendekatkan korban pada api unggun.

Langkah Penanganan untuk Korban Hipotermia dalam Kondisi Parah :

1. Jika korban berhenti menggigil, tandanya ia telah masuk kategori hipotermia parah dimana kita harus segera melakukan pertolongan darurat untuk situasi hidup dan mati.
2. Luruskan otot-otot korban yang mulai kaku secara perlahan dan hati-hati.
3. Jika korban berhenti bernafas, segera beri nafas buatan, namun jangan dibarengi dengan melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation atau teknik kompresi dada untuk pertolongan pertama).
4. Selimuti atau bungkus seluruh tubuh korban dengan menggunakan selimut darurat (emergency blanket).
Selimut darurat untuk menolong korban hipotermia, gambar diambil dari sini
***
Itulah sedikit informasi tentang cara penanganan korban hipotermia yang bisa saya bagikan kepada anda semua. Bahan tulisan ini diambil dari berbagai sumber, jika ada kesalahan atau mungkin anda ingin menambahkan, silahkan tuliskan di kolom komentar.
Jangan ragu untuk segera memberikan pertolongan secepatnya jika teman anda terkena serangan hipotermia. Jangan takut salah dalam melakukan pertolongan, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, karena pertolongan yang anda lakukan bisa saja menyelamatkan nyawa korban. Semoga bermanfaat, salam lestari..
sumber : www.bluetripper.com